Senin, 4 Mei 2020
Kisah Sukses Menulis
dan Menerbitkan Buku di Penerbit Mayor
(Menghimpun yang Berserak)
RESUME
Tema :
Pengalaman Menulis di Penerbit Mayor
Waktu
: Senin, 4 Mei 2020
Narasumber : Ukim Komarudin
Kuliah
pada kesempatan siang ini adalah pertemuan yang ke-25 yang aku ikuti di Goup WA
bersama Omjay, belajar menulis PB PGRI Gelombang 7. Acara dimulai jam 13.00 WIB
– 15.00 WIB di bulan romadlon 1441 H. Sebetulnya aku sangat ngantuuk, tapi
materinya bagus sih..Ngantuk-ngantuk tetap menyimak. Maaf …om Ukim, om Bambs. dan
Omjay, hal ini bukan berarti mengurangi rasa hormat namun karena bulan puasa,
waktu ini yang paling tepat untuk istirahat.Hehehe, sekali lagi saya mohon maaf.
Pengalaman merupakan guru yang terbaik. Kalimat ini menggambarkan
sebuah proses panjang yang dilewati dalam jangka waktu yang lama sampai
akhirnya proses itu memberikan hasil yang baik. Lalu, bagaimana dengan menulis
? Menulis juga merupakan sebuah proses, yaitu proses untuk belajar
mengekspresikan diri melalui tulisan dan menyampaikan pesan kepada para pembaca
tulisan kita. Oleh karena itu, untuk menjadi seorang penulis yang baik, tentunya
kita pun harus terus belajar. Salah satunya adalah dengan mempelajari kisah
sukses menulis dan menerbitkan buku di penerbit mayor. Berikut ini adalah kisah sukses menulis dan
menerbitkan buku di penerbit mayor yang dibagikan oleh narasumber kegiatan
Belajar Menulis Gelombang 7, yaitu Bpk. Ukim Komarudin. Beliau adalah seorang
guru SMP Labschool Kebayoran, Penulis, dan motivator.
Menulis Sebagai Ekspresi Diri yang Apa Adanya
Bpk. Ukim Komarudin menuturkan kisah awal mula beliau senang
menulis. Baginya, menulis merupakan bentuk ekspresi pribadi, sehingga beliau
cenderung menulis secara bebas tentang pemikiran dan perasaan yang beliau
alami. Menulis secara bebas, membuat beliau tidak merasa khawatir tentang
kualitas tulisannya, selain itu beliau pun merasa bahwa dengan menulis bebas,
beliau dapat menuliskan apa saja tanpa harus selalu merasa peduli tentang trend
yang sedang terjadi di masyarakat.
Dengan pemikiran seperti ini, pada akhirnya beliau menemukan
sebuah kesadaran baru bahwa menulis merupakan sebuah kebutuhan. “Jika
tidak dilakukan seperti ada yang kurang,” kata beliau. Beliau
menegaskan bahwa syarat untuk menulis bebas terletak dari nilai kejujuran saat
menulis. Maksudnya, menulislah dengan jujur, sejujur – jujurnya dan apa adanya.
Menulis Tentang Apa Saja
Selain menulis apa adanya, beliau juga menulis tentang apa saja.
Karena beliau adalah seorang guru, maka beliau menulis tentang topik – topik
pelajaran, beragam kegiatan, proposal, liputan kegiatan yang harus dituliskan
di majalah dan menulis buku harian.
Ternyata, saat beliau menulis banyak topik, beliau juga
mendapatkan dukungan dari rekan – rekan guru sebagai sahabat terdekatnya.
Mereka turut memberikan andil dalam memotivasi narasumber agar terus
menghasilkan karya. “Tulisannya bagus, membuat pembaca larut dalam
emosi yang dimunculkan dalam cerita. Selain itu bahasa yang saya gunakan juga
sederhana dan mudah dicerna oleh pembaca. Bahkan ada juga yang berkomentar
bahwa tulisan – tulisan saya dapat dijadikan bahan ceramah atau kultum,” kenang
beliau saat mengingat kembali kesan teman – temannya.
“Menghimpun yang Berserak” merupakan salah satu judul buku yang
ditulis oleh Bpk. Ukim. Ide untuk membuat buku ini diakui oleh beliau datang
dari komentar – komentar yang diberikan oleh teman – teman beliau. Buku ini
diberi judul demikian karena isinya terdiri dari tulisan – tulisan yang merekam
pelajaran hidup yang beliau alami bersama dengan “anak – anak cerdas” yang
menjadi siswanya. Beragam kejadian, beragam waktu, dan beragama tokoh beliau
kisahkan melalui buku ini. Beliau berharap bahwa buku ini dapat bermanfaat bagi
para pembacanya melalui mutiara – mutiara kehidupan yang beliau temukan dan
beliau tuliskan dalam bukunya.
Proses Memoles Tulisan
Bpk. Ukim mengisahkan awal peristiwa saat beliau diwawancara
sebelum menerbitkan bukunya. Walaupun saat itu beliau sendiri menjadi
penanggung jawab penerbitan buku di sekolah, namun bukan lantas jalan beliau
untuk menerbitkan buku menjadi mudah semudah membalikkan telapak tangan.
Sebagaimana mutiara yang perlu dipoles agar semakin berkilau, Bpk. Ukim
mengikuti semua rangkaian wawancara tersebut. Saat itu beliau diwawancara untuk
dua judul buku yang beliau tulis yaitu “Menghimpun yang Berserak” yang
merupakan buku pribadi beliau, dan buku bersama yakni buku pelajaran.
Dalam kesempatan interview itu Bpk. Ukim mendapatkan
ilmu – ilmu baru seperti tips dan trik menerbitkan buku. Seperti memprediksi
pasaran buku, menentukan nilai tambah yang termuat pada buku, dan kriteria buku
yang dianggap layak untuk diterbitkan. Berikut ini adalah kriteria kelayakan
sebuah buku untuk diterbitkan (khususnya buku mata pelajaran) :
1. Menunjukkan
penggunaan pendekatan baru
2. Lebih lengkap
3. Penulisnya
memang berkualifikasi luar biasa
4. Naskah renyah
(enak dibaca)
5. Diutamakan dari
hasil penelitian lembaga – lembaga pendidikan terbaik
Selain itu, ada juga alasan penerbit menolak naskah buku
yaitu :
1. Kurang nilai
ekonomisnya
2. Materi / judul
tidak sesuai dengan fokus penerbit
3. Sudah ada buku
sejenis di penerbit
4. Penulis tampak
kurang menguasai materi
5. Penulis tampak tidak mampu menuangkan idenya dengan baik sekalipun
penulis menguasai materi
6. Penuhnya kapasitas
produksi penerbit (masuk dalam penundaan penerbitan)
Namun, di akhir wawancara, justru beliau merasa kurang nyaman dan
menyadari bahwa sebenarnya beliau merasa “terpenjara” dengan kegiatan wawancara
tersebut. Hal ini terjadi ketika wawancara sampai pada pertanyaan berupa sikap
yang diambil oleh beliau bila ada hal – hal yang perlu disesuaikan
bahkan diganti dari tulisan itu. Karena bagi beliau, menulis itu adalah
ekspresi pribadinya sehingga beliau tidak mau jika ada orang lain yang mengatur
hal – hal privasinya.
Rahasia di Balik Layar
Ternyata, untuk menerbitkan buku dengan baik, betul – betul butuh
persiapan matang. Sekalipun naskah buku sudah selesai ditulis, namun masih
perlu dipoles lagi oleh tim yang disebut dengan editor. Tim editor ini lah yang
akan menyebabkan karya yang kita buat dapat dinikmati oleh banyak orang. Jadi
boleh dibilang, kerja tim editor ini adalah kerja di balik layar dari
keberhasilan sebuah buku sebelum sampai ke tangan para pembacanya.
Mengapa dikatakan sebagai kerja di balik layar ? Karena pada saat
pembaca membeli dan membaca sebuah buku yang berkualitas, sangat jarang pembaca
akan mencari tahu editornya. Pembaca akan cenderung melihat nama penulis buku
tersebut dan penerbitnya.
Seorang penulis perlu melakukan kolaborasi bersama dengan
editornya. Karena pekerjaan mereka adalah memastikan naskah kita layak menjadi
buku yang akan diterbitkan. Design cover, layout, dll menjadi tanggung jawab
tim editor. Biasanya, tim editor akan mengirimkan proof buku (dami) kita
sebelum buku tersebut dicetak. Editor pasti akan menghubungi penulis untuk meminta
konfirmasi terkait design cover dan layout.
Meeting Buku Adalah Hal Penting
Setelah editor selesai bekerja, dami sudah diserahkan pada penulis
dan kontrak sudah ditanda tangani, maka langkah berikutnya adalah mengikuti
meeting terkait penerbitan buku. Hal – hal yang dibahas dalam meeting ini
adalah : Narasumber menuturkan bahwa
sebenarnya meeting terkait penerbitan buku ini sangat penting bagi seorang
penulis. Hendaknya penulis juga memberikan kontribusi berupa gagasan – gagasan
terbaik yang bisa dilakukan oleh kedua belah pihak, yaitu penulis dan penerbit,
terutama terkiat dengan strategi pemasaran buku tersebut.
Akhirnya,
mendapat konfirmasi bahwa ada meeting terkait dengan terbitnya bukunya. Pertama,
beliau (narasumber kita) menerima buku pribadi, kalau tidak salah jumlahnya
hanya 5 buku. Buku tersebut berstempel tidak diperjualbelikan. Kedua,
diajak bicara terkait dengan teknis launching Buku "Menghimpun yang
Berserak". Ini soal bagaimana membuat bukunya laku. Saat itu beliau merasa
sangat bodoh dan kurang dapat memberikan masukan yang berarti. Ketiga,
diberit ahu bahwa penerbit menerbitkan jumlah yang diterbitkan pada penerbitan
pertama ini dan kurang lebih 6 bulan kemudian baru akan mendapat royaltinya.
Untuk tersebut juga dirinya merasa tidak pandai memberi masukan.
Perannya
kemudian adalah mengusahakan bukunya dapat dinikmati orang lain. Kala itu agak
sulit karena media sosial belum sedahsyat sekarang. kebetulan beliau pembicara,
berupaya menjual buku-bukunya pada kesempatan bicara tersebut.
Ada
beberapa kejadian menerbitkan buku kembali, kedua, ketiga, keempat, dan
seterusnya hingga yang menjelang terakhir buku, "Arief Rachman Guru".
Semuanya mirip-mirip pengalaman dengan penerbit. Kurang lebih, seperti itulah
pengalaman narasumber kita (Pak Ukim Komarudin) dalam proses kreatifnya.
Yang perlu diperhatikan ibarat peribahasa, lain ladang lain
belalang, lain lubuk lain ikannya. Demikian juga seorang penulis. Tentunya,
tidak akan bisa meraih kesuksesan yang sama dengan penulis yang sudah sukses
saat ini, apalagi jika kita belum mempunyai arah yang tepat dalam menulis. Ada
kalanya saat kita mempunyai bahan untuk menulis, kita tidak yakin untuk mulai
menulis dari mana dan saat sudah mulai menulis, tulisan – tulisan itu pun tidak
bisa kita selesaikan.
Oleh karena itu, selain membagikan kisah suksesnya, narasumber
juga membagikan tips – tips menjadi penulis yang kreatif dan berani. Berikut
ini adalah tipsnya :
1. Pilihlah kategori ekspresi menulis.
Ada
dua tipe penulis yaitu tipe sprinter dan tipe marathon. Tipe sprinter yaitu
penulis yang menyajikan tulisan dengan singkat dan cepat, misalnya dalam
menulis cerpen. Sedangkan tipe marathon yaitu penulis yang senang menyajikan
cerita yang panjang dan berkesinambungan, misalnya menulis novel. Dengan
mengetahui tipe – tipe penulis ini, kita dapat mengenali kemampuan menulis
kita. Sehingga tulisan – tulisan kita akan bisa kita selesaikan.
2. Tentukan peran Anda hanya sebagai penulis,
bukan merangkap editor.
Seorang
penulis pemula, pasti menginginkan karyanya sempurna. Oleh karena itu, dia akan
menjadi serakah dengan juga bertindak sebagai editor dari buku yang ditulisnya.
Hal ini yang menyebabkan buku tidak pernah selesai, karena sudah menulis beberapa
paragraf tiba – tiba dihapus kembali.
3. Seorang penulis yang baik adalah pembaca
yang baik.
Membaca
buku sejenis akan memberikan inspirasi dan vitamin yang akan memperkaya tulisan
kita.
4. Menulislah dengan gaya kita sendiri.
Pada
saat orang lain membaca tulisan kita, mereka akan mengenali gaya bahasa kita.
Oleh karena itu seorang penulis perlu menemukan warna, tipe, dan kekuatan
sendiri dalam menulis.
Dilanjutkan
sharing Tanya Jawab oleh teman-temanku yang hebat, P (pertanyaan) dan (N)
jawaban narasumber sebagai berikut:
P1. Bagaimana kriteria layak atau tidaknya
sebuah buku dapat di terbitkan oleh penerbit terutama buku pelajaran?
(N)=Memang ada kriteria
yang dianggap layak untuk diterbitkan. Khususnya terkait buku mata pelajaran,
biasanya mereka mencari buku: (1) menunjukkan penggunaan pendekatan baru; (2)
lebih lengkap; (3) penulisnya memang berkualifikasi luar biasa; (4) Naskah renyah
(enak dibaca); dan diutakan dari hasil penelitian lembaga-lembaga
pendidikan terbaik.
P2. Pertanyaan
tentang pengalaman Om Ukim dalam tulis menulis:
P.Jeda berapa lama tulisannya mulai di lirik.
N= Paling
lama 6 bulan. Jika tidak ada kabar. Berpindah ke lain hati (penerbit lain) atau
naskah direvisi ulang
P.Media apa t4 mempublish tulisan om pertama kali.
(N)= Saya menulis
di buletin sekolah, kemudian buletin pendidikan DKI, lalu bulletin Diknas, dst.
P.Gimana latar belakang buku guru juga manusia
sehingga bisa best seller, dan buku besy seller tsb brp exsemplar laku dan brp oom
dapat royalti dr buku tsb: Dari awal mulai Om menulis sanpai sekarang, ada ndak
berubah motivasi Oom Ukim dalam
menulis.
(N)= Saya
tipe penulis. Mungkin, lebih banyak buku yang tidak saya terbitkan daripada
yang saya terbitkan. Saya memang bukan tipe pandai menjual ide. Saya senang
menulis. Yang menarik buat saya tulis, ya saya tulis. Tak peduli tak dilirik
penerbit. Tapi Allah maha pengasih. Beberapa sering dilirik penerbit dan jadi berkah
buat keluarga P.Saat Oom
diintervew sama siapa, dan apa hal yg sangat berkesan dari intervew tsb.
(N)= Yang
interview dari dulu sampai kini sudah saya tahu. Pasti dia editor. Dialah penentunya.
P.Keseharian Om Ukim seperti apa kesibukannya.
(N)= Saya
sering berdoa, dan ternyata sering benar, "Dia lebih pintar dari
saya". Minimal soal membuat buku saya laku di pasaran.
P.Apakah buku karya Om Ukim semua diterbitkan di
mayor, Buku mengumpulkan yg berserak
tsb, berapa naskah semuanya
(N)=. Semua buku berkesan. Dia seperti anak
saya. Dia ada yang berkembang dan bermakna bagi masyarakat luas. Ada juga yang
diam-diam hanya dibaca sahabat dekat ketika dia terpuruk di sudut kamarnya.
Semuanya saya syukuri. Ia lahir dari saya, saya bangga atas rezekinya.
P3. Jika menulis di mayor dikasih
waktu berapa lama untuk menulis setelah menyetorkan judul atau setelah kontrak
di berikan, apakah setelah mendapat kontrak menulis di penerbit mayor, akan
ditawari kerja sama lagi setiap tahunnya?
(N)= Ketika
bertemu penerbit saya sudah bawa naskah utuh. Dari naskah itu kita mulai
bicara. Saya sering diminta menulis terus oleh beberapa penerbit karena
beberapa buku saya yang dipergunakan di lembaga pendidikan terbit terus.
Mungkin sekarang sudah jilid belasan. Masalahnya di pembagian waktu
atau prioritas. kelemahannya juga ada di saya. Pribadi saya kurang bisa
kompromi. Tapi percayalah, dari karya Bapak yang sungguh-sungguh akan ada
tawaran berikutnya. Masalahnya, Bapak berkenan membagi waktu dan prioritas?
P4. Bagaimana mengetahui gaya
selingkung penerbit?
(N)=Saya
termasuk orang yang nggak mau belajar tentang itu. Bisa terkuras energi kita
jika memikirkan hal itu. Itu sebabnya, saya menulis untuk diri saya. Jadi,
ketika itu jadi duit, alhamdulillah. Lalu, saya tak mendapat konfirmasi
sekaligus royalti, padahal di belakang saya mereka menerbitkan dan menjual buku
saya. Silakan. Makan tuh rezeki saya semoga jadi amal yangdipakai kebaikan.
Saya kurang suka dengan hal-hal yang diluar jangkauan saya.
P5. Saya dulu menulis banyak novel,
dan cerpen tapi tidak sampai klimaks sudah bosan. Bagaimana cara mengatasi nya?
Pertanyaan kedua, saya suka menulis novel. Tapi, kenapa saya terus
mengulang-ulang kesalahan yang sama. Misal tokoh terlalu banyak, jalan cerita
mudah ketebak, bagaimana cara mengatasinya? Pertanyaan ketiga, saya mempunyai
asisten penulis novel-->2 teman saya beda kelas dan teman saya satu kelas.
Alasan saya butuh asisten karena mereka sebelumnya pernah menulis novel di
wattpad dan menjadi suka menggambar. Sehingga diharapkan agar ceritaku bisa
dilihat dari sudut pandang bayak orang,tapi apakah langkah itu sudah betul?
Pertanyaan ke empat, karena banyak orang yang membantu saya, apakah mereka
disertakan dalam bagian abstrak/pengenalan penulis?
(N)= Diduga Bapak salah memilih kategori ekspresi menulis. Bapak
harus menempatkan diri sesuai stamina dan kecenderungan Bapak. Ada tipe
sprinter, maka pilih cerpen. Kalau marathon, pilih novel. Mungkin bertahap ya,
Pak. Dari lari jarak pendek karena latihan akhirnya bisa lari jarak jauh. Ada yang
disebut, Premis (tema besar). Biasa terdiri atas satu paragraf. Hebatnya, ia
adalah sebuah headline yang memegang pergerakan ide, tokoh, dan alur cerita.
Penulis hebat memulia dari itu, Pak. Percayalah, jika tidak memulia dari situ,
kemungkinannya kalah tenaga, atau ngawur kemana-mana. Saya tipe orang yang
sering menyembunyikan karya jika belum final. Saya orang teater, Pak. Saya suka
membuat kejutan dengan membina puncak-puncak cerita. Termasuk di sini kelahiran
anak (karya) saya yang mengejutkan. Permasalahan penulis pemula sering serakah.
Jadi penulis sekaligus editor. Akhirnya, nggak jadi-jadi. Baru satu bab
dikoreksi. Baru lima lembar disalahkan sendiri. Ya ambyar. Tulis saja, nanti
ada jurinya: diri sendiri, teman penulis, dan akhirnya editor. Jika mereka
menganggap tulisan bapak gagal laku di pasaran, tapi Bapak bilang itu bagus tak
apa. Ada suatu masa yang dikatakan banyak orang jelek, saat itu malah dicari
dan dibenarkan orang.
P6. Saya baru akan menulis buku,
pengalaman bahan untuk menulis sudah ada akan tetapi memulai menulisnya
kesulitan. Bagaimana memulai menulis buku yang bisa meyakinkan bagi penulis?
(N)=Mulailah
menulis dengan membaca buku-buku yang diduga akan mirip ekspresi bentukannya
seperti buku yang akan Bapak buat. Ketika kita datang ke perpustakaan atau toko
buku, kita membaca untuk mendapatkan inspirasi. Kadang-kadang, saya membeli
buku atas tujuan seperti itu, Pak. Tentang meyakinkan memang dimulai dari Bapak
dahulu. Kalau Bapak kurang yakin, celakanya pembaca juga demikian. Mulailah
banyak membaca karya-karya yang bagus yang menjadi minat Bapak. Dari situ,
bapak punya standar sendiri.
P7. Adakah
tips dan trik agar kita bisa menjadi penulis produktif yang layak diterbitkan?
Bagaimana cara menumbuhkan rasa percaya diri dalam menulis (memulainya)?
(N)=
Penulis yang baik memang pembaca yang baik. Banyak-banyaklah membaca sehingga
akan mampu menulis. Saya setuju dengan himbauan menulislah setiap
hari. Tapi tolong disertai membaca agar tulisan kita
berkualitas. Itu hukumnya. Menulis (produktif) pasokannya adalah
membaca (receptif). Menulis saja. Dengarkan respons dari sekitar. Kita memang
membutuhkan orang yang membuat kita terlecut menjadi lebih baik.
Pesan
om Ukim, ingatlah, bahwa Anda adalah seorang penulis hebat yang mengolah ladang
amal Anda sendiri. Oleh karena itu, olah lah ladang tersebut dengan cara
menulis setiap hari, apa yang anda kuasai, apa adanya. Karena dengan demikian
Anda akan menemukan kebahagiaan. Menulis berarti membuat sesuatu, yaitu menciptakan
sejumlah kebaikan, baik untuk diri sendiri, keluarga, dan bahkan akan bermanfaat
bagi orang lain. Semoga om Ukim tetap sehat , terimakasih ilmu yang telah
diberikan kepada kita semua , lanjut Om bambs.
Muh.
Taufiq
SMAN
1 Semanu, Gk, D.I Yogyakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar