Jumat, 01 Mei 2020

Resume Pertemuan ke-24


Jumat, 01 Mei 2020

 SKILL PENULIS DIBURU PENERBIT


RESUME

Pertemuan ke-24, Belajar menulis Gelombang 7, bersama Omjay kali ini menghadirkan trainer, motivator dan penulis best seller bapak Dadang Kadarusman yang akrab dikenal Om “Deka” dengan tema : “Motivasi Menulis Setiap Hari dan Menerbitkan Buku”. Kegiatan ini seperti biasa dilaksanakan mulai pukul 13.00 WIB-15.00 WIB. Melalui WAG yang disponsori PB. PGRI. Moderator Mr.  Bambs. Kami persilahkan kepada Om untuk memberikan materi sampai pukul 14.00.Sisanya sampai pukul 15.00 untuk tanya jawab. Perhatian untuk peserta. Baik Om. Jawab om Deka. Pertanyaan hanya diajukan mulai pukul 13.45. Bapak ibu ijinkan saya untuk mengkombinasikan antara menulis dengan pesan suara ya. Pertanyaan melalui 088809405468. Ok saya mulai :

Assalamualaikum wr wb. Kali ini Omjay memberikan nara sumber hebat seorang trainer  program pelatihan. Luar biasa beliau sejak kecil hingga sekarang tetap menulis. Kata beliau menulis itu gampang…!!!, dengan polosnya memotivasi peserta.

Profil Om Deka: " Training bukanlah satu-satunya solusi atas semua tantangan dalam bisnis. Namun tanpa training perusahaan tidak mungkin memiliki SDM yang benar-benar handal.....
www,dadangkadarusman.com. Dadang Kadarusman seorang author, Trainer dan Public Speaker. Beliau belajar di Bandung Intitute Of Technologi. Beliau seorang Executive Developmen Progran (EDP), Executive Developmen Progran (EDP), Asian Intitute Of Management (AIM) dan Harvard manage mentor  Program (HMM). Proffesional experience dan Proffesional achievement dan tak kalah kerennya Bapak satu ini adalah memang pantas dijuluki Bapak Leadership and People Development”.


Salam bahagia dan sejahtera untuk Omjay Founder Menulis Grup WA,  Selamat siang semuanya, semoga sehat  walafiat semuanya dan dapat berpuasa di bulan ramadhan yg indah ini salam bertemu kembali dengan penuh semangat di hari kedelapan Ramadhan penuh berkah ini.salam sapa juga sang Moderator keren kita Mr. Bambs, salam sehat selalu.

Kuliah online ini Bapak Deka menyampaikan salam nya,  bapak Ibu sekalian. Saya berterimakasih kepada Omjay  yang telah berbaik hati mengajak saya ambil bagian dalam program pelatihan ini. Selain itu menyampaikan rasa bangga pada peserta yang telah menyempatkan waktunya untuk menyimak dalam topik saat ini. Beliau menyampaikan pengalaman saat kecilnya dan mengenalkan nama pemberian orang tuanya, terang pak Deka.

Perkenalkan nama saya Dadang Kadarusman. Ayah saya seorang guru sekolah dasar. Ketika saya masih kecil, beliau sering membawakan buku-buku bacaan. Dari situ saya jadi suka membaca. Dan dari suka membaca itu kemudian saya berkeinginan untuk menulis. Jadi sejak kecil saya sudah menulis. Hobby menulis beliau ternyata sudah dibina sejak kecil. Sampai hari ini, alhamdulillah Allah kasih saya kekuatan untuk terus menulis.

Pak Deka memancing kemauan kita apa yang belum diketahui? Saya tanya, cara apa yang tidak Anda ketahui itu? Misalnya dengan  cara menerbitkan buku. Lantas apa itu yang harus diperbaiki? Yaitu berpikir tentang tentang "Cara Menerbitkan buku."
dari dialog ini ada aspek yang bisa di ambil sebagai kelemahan penulis pemula. Tapi dari dialog sederhana itu kemudian saya melihat ada 1 aspek yang perlu diperbaiki pada orang yang ingin mempunyai hasil karya berupa buku, jelas pak Deka dengan penuh optimisme yang tinggi.

Ditegaskan sekali lagi bahwa hari ini, menerbitkan buku itu sangat mudah sekali. Beda dengan 20 tahun lalu ketika saya pertama kali ingin menerbitkan buku. Ditolak penerbit itu biasa sekali. Sekarang tantangan terbesar kita BUKAN pada menerbitkan bukunya. Melainkan pada MENULIS SETIAP HARI nya. Jika kita bisa menulis setiap hari, maka kita akan sampai pada titik dimana kualitas tulisan kita akan sangat menarik bagi penerbit. Kita tidak perlu mendatangi penerbit lagi. mereka yang datang kepada kita. Nantinya tinggal bapak ibu aja mau menerbitkannya atau tidak.

Pembahasan kita kali ini akan saya fokuskan kepada cara menulis setiap harinya.
Sebab saya percaya, bahwa penerbit akan mendatangi Anda jika skill menulis Anda sudah sesuai dengan yang mereka cari. Jadi pelajaran pertama, jangan lagi berpikir bahwa menerbitkan buku itu susah.!, Tapi justru gampang banget, tegas om Deka, dan kita harus optimis.




Lalu bagaimana seseorang bisa menulis setiap hari?

Melalui catatan Voice note 0m Deka menyampaikan bahwa Menulis itu membutuhkan skill. Dan skill itu harus dilatih. Latihannya setiap hari.  Ada cerita menurut pak Deka bahwa Bagi penulis yang menitipkan nama saja istilahnya ada GHOES WRITER? Nah itu hanya numpang nama saja dan kelihaian menulis sangat tergantung pada orang lain. Bahkan ada penulis buku yang sudah banyak menerbitkan buku dan itupun jarang juga menulis setiap hari.

Namun berbeda dengan orang yang skill nya terlatih menulis setiap hari. Kemampuan menulisnya mumpuni dan sudah memiliki beberapa naskah yang sudah siap kapanpun akan menerbitkan buku.sekarang kita simak materi baru voice note:Kenapa kita perlu menulis setiap hari : WHY, terlebih dahulu.

v Karena menulis setiap hari itu membantu menjaga keselarasan antara otot-otot tubuh kita, juga jiwa. Jadi, nanti kalau kita sudah terbiasa menulis. Melihat apapun, selalu ingin menerjemahkan apa yang kita lihat itu kedalam bentuk tulisan.dan itu terjadi secara refleks saja. Begitu pula ketika kita merasakan sesuatu. Orang yang tidak terbiasa menulis, bisa saja memendam perasaan itu. atau butuh seseorang yang mau mendengarnya padahal, belum tentu ada yang mau dengar kan? Tapi jika dia terbiasa menulis, maka dia selalu punya teman untuk mencurahkan perasaannya. yaitu, selembar kertas dengan pena kalau dulu. kalau sekarang, tinggal ambil smart phone maka kita bisa mencurahkannya disana.
v Menulis setiap hari itu merupakan healing remedy. Jadi, jika terbiasa menulis, kita bisa menjadi pribadi yang lebih sehat.

Kenapa perlu menulis setiap hari adalah;  Karena seorang penerbit buku sejati, bukanlah orang yang meminta bantuan orang lain untuk menuliskan naskah bukunya.  Melainkan orang yang memiliki kemampuan untuk menuliskan sendiri naskahnya secara mandiri. Bagimana kemampuan itu diasah? Dengan cara berkomitmen untuk tidak melewatkan 1 hari pun dalam hidup kita TANPA MENULIS.  Jadi, bapak ibu sekalian. Jika Anda sungguh-sungguh ingin menjadi penulis handal; mulai sekarang, berkomitmenlah untuk menulis setiap hari. Seberapa banyak?  Kalau saya pribadi, 1 hari 1 artikel.  Nah kalau ukurannya jumlah artikel, berarti tidak ditentukan jumlah katanya kan ya. Kan jaman dulu kalau kita mau mengirim artikel ke koran, itu ada ketentuan jumlah kata. Hal itu membuat penulis pemula kesulitan.. kenapa ? Karena bukan hal yang mudah untuk menuangkan gagasan secara indah dengan jumlah kata yang ditentukan.Maka bagi saya, ukurannya adalah "1 Artikel". Artikel itu apa? Sebuah paparan yang memuat buah pikiran penulis sehingga dapat dipahami oleh orang lain. Begitu ukurannya. Jadi, yang penting dalam 1 hari itu ada karya tulis ibu bapak yang "KALAU" dibaca orang lain, mereka akan memahaminya. Oya, kenapa saya pakai kata KALAU?  Karena, belum tentu ada orang yang membaca artikel itu  Duh, sedih banget ya. sudah cape-cape nulis tapi kok nggak ada yang baca.

Yang Perlu Diperhatikan adalah: Ditahap belajar ini, sebaiknya kita tidak terlalu baper soal ada yang baca apa nggak. kenapa? Karena kalau orang lain baca pun belum tentu feedbacknya positif kan ya. Kan tidak sedikit orang yang berhenti menulis karena pembacanya memberi feedback negatif. so, yang penting menulis saja dulu. Kalau tulisannya sudah memenuhi standar minimal untuk dibaca orang, YAKIN DEH bakal dibaca.

Setelah membahas tentang WHY yang berhubungan proses membiasakan diri dalam menulis itu. Sekarang kita bahas WHATnya.
WHAT
v WHAT makes you write something? Apa sih yang menjadi mendorong Anda untuk menulis?

Pertanyaan ini sederhana.Tapi orang yang tidak menemukan jawaban yang tepat, akan berhenti ditengah jalan.Jadi mari kita tanyakan kepada diri sendiri dulu apa yang mendorong kita menulis. dengan kata lain, apa sih tujuan kita menulis?
Contoh :

v Pertama, Ada orang yang menulis agar mendapatkan uang? Ada. Dulu, saya pernah berada di level itu. Saya menulis untuk mendapatkan uang, karena saya butuh untuk biaya sekolah. Apakah saya berhasil? Lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya. lebih banyak naskah yang dikembalikan redaksi daripada diterbitkan. Saat itulah kemudian saya sadar bahwa, menulis karena ingin mendapatkan uang; bukanlah nilai pribadi saya. Dan sampai sekarang, saya menulis BUKAN untuk uang. Bapak ibu boleh nggak menjadikan uang sebagai pendorong utama dalam menulis. boleh saja. tidak masalah. Tapi nanti seiring berjalannya waktu kita akan menemukan apa dorongan yang paling cocok buat kita.

v Kedua, menulis dengan dorongan INGIN BERBAGI PENGETAHUAN. Nah, yang ini menurut hemat saya; paling sesuai dengan jiwa pendidik seperti kita. Pengalaman Om Deka ketika menulis orientasi karena uang, kadang saya kecewa karena penerbit menolak. Seperti diremehkan oleh mereka deh rasanya. Kita juga bisa kecewa jika bayarannya ternyata tidak seperti yang kita harapkan. Royalti penulisan buku misalnya.

Lantas dari mana IDE Menulis setiap hari? Om Deka menyampaikan bahwa segala hal yang bisa ditangkap oleh panca indra kita adalah sumber ide. Tinggal kita olah saja. berapa banyak rangsangan yang masuk kedalam sistem panca indra dan indra ke 6 kita? Jumlah rangsangan itu TAK TERHINGGA. Maka itu berarti bahwa sumber ide penulisan kita bisa SAAAANGAT banyak. Contoh. Hal apa yang bapak ibu tangkap dengan panca indra sekarang?. Ada bunyi AC?. Itu sumber ide. Ada suara seseorang yang lewat didepan rumah? itu sumber ide. Ada bunyi PRAAAANG! gara-gara panci jatuh? semua sumber ide. Dan ide itu, hanya butuh sentuhan berupa mengolah pikiran yang kemudian menuangkan hasil olah pikir itu kedalam tulisan dan karena rangsangan itu selalu ada setiap hari, maka kita semua sebenarnya bisa menulis setiap hari. Setiap saat ada ide disanalah sumber tulisan kita. Terima kasih Om Deka.

Selayang Pandang sang Narasumber. Dalam bidang pelatihan Deka merupakan salah satu dari sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Pak Deka juga berbicara di radio, tampil di televisi, menulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Om Deka terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Pak Deka membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Om Deka tunjukkan langsung dihadapan peserta. Pak Deka tidak hanya bicara tentang teori, melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Om Deka bicara di perusahaan silakan hubungi 081219899737. Wah mantabz sekali narasumber kita kali ini, selamat menulis, semoga sukses !

Dilanjutkan sharing, tanyajawab oleh teman-temanku yang hebat diantaranya: Om Deka dalam sesi tanya jawab. Nanti setiap pertanyaan langsung Om Jawab. Setiap pertanyaan akan diberikan kode P1 hingga seterusnya. Bila Om Deka sudah selesai menjawab mohon di chat terakhir tuliskan huruf N, sebagai tanda boleh melanjutkan ke pertanyaan berikutnya. Terima kasih, jelas om Bambs.

P1. Selamat siang. Saya Dwi Mulyanti. Dr SMKN 1 Kademangan Kab. Blitar. Pertanyaan saya 1. Berapa lama pengalaman bapak mengasah menulis hingga akhirnya dipercaya oleh penerbit seperti sekarang ini?. 2. Sebagai permulaan, Seperti apa strategi dan Tips memilih penerbit yang sesuai dengan buku yang akan kita terbitkan? (N)=Baik Bu Dwi. Saya mulai menulis sejak SD, aktif sekali SMP sampai ikut lomba-lomba. Berarti sudah sekitar 40 tahun menulis. 1. Kapan mulai dipercaya oleh penerbit? Sekitar 10 tahun lalu. Jadi butuh 30 tahun perjalanan terlebih dahulu. Tapi, ada tapinya. Kondisi saya dulu beda dengan sekarang. Dulu, penerbit hanya sedikit. Dan mereka punya bargaining power yang sangat tinggi. Maka mereka sulit ditembus. Sekarang, ada Sangat banyak penerbit. bahkan menerbitkan sendiri pun bisa. Sehingga Bu Dwi tidak butuh waktu selama saya untuk diercaya penerbit. #2. Kalau kita masih pemula, sebaiknya tidak usah menerapkan terlalu banyak kriteria penerbit. Karena kita yang masih pemula butuh mereka kan ya. Strateginya paling gampang adalah; Ibu terus ikut kursus menulis seperti dalam kegiatan group ini.

P2. Saya Syukri dari padang mau tanya sama bang deka, yang pertama,nulis setiap hari kalau dipaksakan mungkin bisa ya bang. Tapi tentang Themanya apakah harus terstruktur atau bagaimana bang. Yang kedua berapa banyak kah kita harus nulis per hatinya?. Yang ketiga untuk masa berapa lama tulisan trsebut kita kumpulkan?. Makasih atas jawabannya bang deka. (N)=Baik Pak Syukri. Betul pak, kalau dipaksa bisa. Tapi, 'paksaan' adalah sebuah proses yang efektif untuk mendisiplinan seorang pembelajar yang belum memiliki 'refleks menulis' sendiri. Saya misalnya, sudah mulai menulis sejak SD. Tapi menulis setiap harinya baru setelah bekerja .

Bahkan bagi yang sudah biasa menulispun butuh dipaksa. 1) Mengenai Thema, dalam tahap belajar; TIDAK USAH KHAWATIR SOAL TEMA dan sistematika penulisan. Pokoknya nulis saja. Tidak usah takut salah. toh ini bukan UN kan? Kalau saya bicara dengan penulis yang sudah pro, saya menuntut mereka hasil karya yang pro. Tapi, bagi pembelajar, yang terpenting adalah; kemauan untuk terus praktek menulis. Lalu, bersedia mendengar masukan dari orang lain untuk perbaikannya. #2. berapa banyak perhari? Targetkan 1 karya tulis. Sepanjang apa? Berapa kata? Bebas. yang penting, karya tulis itu bisa menampung buah pikiran sehingga pembaca mengerti. Contoh,. jika kita ingin menulis dengan tema "PANTANG MENYERAH" misalnya. Tulisan bapak tidak usah 1000 kata. Cukup 2 atau 3 paragraf saja. Lalu, minta orang lain baca. Jika mereka bisa menerima atau mengerti ide yang ingin bapak sampaikan, berarti tulisan itu sudah menjadi 1 artikel. Nanti, panjang dan bobot tulisannya pelan-pelan ditingkatkan #3. Tidak ada standar berapa lama masa pengumpulan. kecuali jika bapak punya kontrak dengan penerbit. Misalnya disepakati dalam 2 bulan naskah harus selesai. Kalau bapak menulis untuk tujuan lain, maka waktunya bisa beda lagi

P3. Nama saya Heni Ekawati, S.Pd, M. Pd, Asal sy dr Aceh,,sy betugas di SLB. B YPAC BANDA ACEH. Sy ingin bertanya pak,,dari mana awalnya sy bercerita yang saya ingin menuliskan tentang kisah Anak Istimewa yaitu Dunia Tanpa Suara....Bu Heni Ekawati. (N)=Itu topik yang keren. Dari kalimat "DUNIA TANPA SUARA" saja sudah mengundang pertanyaan orang. "Apaan sih maksudnya?". Saya contohkan ya. Saya akan memulai sebuah tulisan dengan tema itu. nanti bisa ibu lihat bagaimana mengawali tulisannya. Dari kalimat "DUNIA TANPA SUARA" saja sudah mengundang pertanyaan orang.

Paragraf 1: Hey kamu. Pernahkah kamu membayangkan bagimana seandainya tidak seorang pun bersuara didunia ini. Tentu akan sepi sekali harimu kan? Tapi. bisakah kamu membayangkan seandainya hal itu benar-benar terjadi? Sekarang. Coba pejamkan matamu. Lalu bayangkan. Andai saja tak segencring suara pun tertangkap pendengaranmu.
Sekarang, bisakan Ibu Heni lajutkan?
Eh, tapi. menurut kamu. Apakah mungkin telingamu benar-benar tidak bisa mendengat bahkan sekedar bunyi 'ting' pun? Nggak ya. Nggak mungkin kamu nggak dengar bunyi anakku. Tahu kenapa? Karena ketahuilah sayang, bahwa Allah sayang banget sama kamu. Sehingga engkau bisa mendengar berbagai macam suara.

Paragraf kedua niparagraf terakhir saya begini: Nak. Kamu sudah bersyukurkah dengan karunia indah itu? Karena ada loh, di desa sebelah. Seorang gadis yang tidak seberuntung kamu, sayang. Tapi sejak lahir sampai usianya yang menginjak 15 itu, tidak pernah mendengar apapun ditelinganya selain hening semata. Hebbbatnya..., gadis itu tidak pernah mengeluh nak. Tidak pernah pula sekalipun dia bersedih. Pokoknyaaa..a-aaapa ya. Ehm, ibu...ibu kehabisan kata-kata untuk menjelaskan kemulian dirinya dibalik heningnya dunianya. Jika kamu tidak keberatan, sayang. Bolehkan Ibu mencari tahu lebih banyak tentangnya dan menceritakan kisah indah tentang gadis itu kepada hari Jumat nanti ?. Sudah sampai pesannya nggak dengan 3 paragraf itu?. Minimal ada 1 gagasan yang sudah sampai kepada pembaca. Dan diujung ceritanya, ada 'komitmen' untuk melanjutkan, jelas om Deka dengan pengharapan ibu Heni bisa melanjutkan.

P4. Assalamualaikum Pak Dadang.saya baru tahu adanya Gosh writter itu.tapi saya ingin menerbitkan buku itu klo hasil dari tulisan saya sendiri. yang menjadi hambatan saya selalu ga pede ketika ingin mulai menulis, seakan ide itu hilang.bagaimana caranya supaya tetap semangat untuk bisa menulis dan supaya ide itu ga hilang. Eti Haryati dari Bogor. (N)= waalaikumsalaam warohmatullah. Bu Eti. Keren. Ijinkan saya menambahkan bahwa menggunakan jasa "GHOSTWRITER" itu bukan hal yang buruk ya. Tapi itu cocoknya hanya untuk mereka yang hanya ingin menerbitkan buku. Kalau kita kan ingin menjadi penulis terampil, maka itu bukan opsi yang tepat buat kita. Mengenai tidak pede. Itulah sebabnya tadi saya sampaikan bahwa dalam proses latihan menulis, kita tidak perlu terikat dengan target berapa jumlah kata. kan di sekolah dulu ada pelajaran mengarang ya. bu gurunya bilang panjang tulisan minimal 1500 kata. Widiiih, bagi pemula mah pusing banget. Jadi nyantai aja. Jawab om Deka dengan kalem.

P5: Maaf Om DK, dalam menulis sebuah buku apakah kita menentukan judul baru menulis artikel2 yg berkaitan dgn judul atau kita menulis artikel-artikel dulu baru diberi judul utk menjadi sebuah buku?. Agus Purwadi, Ponjong (N)=Baik pak Agus. Dulu buku saya yang judulnya "OUTSHINE" diberi judul duluan. Naskahnya ditulis belakangan. Sedangkan buku "KETIKA SEMUT DAN GAJAH BEKERJA" ditulis naskahnya duluan. Jadi, tidak ada keharusan menulis judul dulu atau naskah duluan.
Dipertengahan menjawab pertanyaan om Bambs, sebagai moderator mengingatkan kepada om Deka masih ada 11 penanya di belakang. Santai aja jawab om Deka

P6. Saya coba menulis di kompasiana namun yang membacanya tidak begitu banyak, Apakah tulisan-tulisan itu bisa di jadikan buku kompilasi ? (Isar Daduki). (N)= Nah, pak Isar. Kalau sebuah tulisan sedikit yang baca, TIDAK BERARTI tulisannya tidak bagus. Bisa saja tempat penayangannya yang kurang tepat.Tulisan-tulisan bapak bisa dibuat kompolasi. Kalau ketemu audiens yang tepat, tentu akan banyak yang membacanya
Om Deka, barangkali karena waktu dibatasi sampai 15.00. Sisa pertanyaan nanti saya kirim lewat email atau WA ?

P7. Assalamu'alaikum. Sangat menarik Om Deka. Bgm menjaga keistiqomahan menulis setiap hari? Sebab bagi saya kadang semangat menulis, kadang luruh semangatnya. Terima kasih. Isminatun, Sukoharjo. (N)=Waalaikumsalaam warohmatullah Bu Isminatun. itulah pentingnya menemukan WHAT MAKES YOU WRITE yang tadi kita bahas. Karena hal itu akan menentukan tingkat istiqomah kitaTapi jawaban dari WHAT tadi sifat individual. Kalau kita menulis karena uang, maka bakal berhenti ketika hasil karyawa kita nggak jadi uang banyak. Tapi kalau kita punya alasan yang lebih tinggi lebih mulia lebih bernilai Insya Allah akan istiqomah

Saya, misalnya. Sekarang menulis lebih karena ingin agar Allah mengajari saya sesuatu. lalu yang Allah ajarkan itu saya bagikan kepada orang lain. Dengan itu, maka saya selalu tanya; Ya Allah, hari ini saya bisa belajar apa?. Dapat jawabannya dituliskan lalu dibagikan Makanya sekarang saya justru lebih tertarik untuk menulis artikel setiap hari kemudian diberikan secara free daripada memikirkan menerbitkan buku. Dengan demikian, maka gagasan saya bisa lebih cepat sampai kepada orang lain

Kesimpulan:
Menulis setiap hari itu melatih skill kita. Karena menulis setiap hari itu membantu menjaga keselarasan antara otot-otot tubuh kita. Dan ide menulis setiap hari juga merangsang indra kita terlatih. Kepekakaan terhadap sekitar bisa ditulis sebagai IDE tulisan kita. Tulislah setiap hari sampai menemukan personal branding yang akhirnya nanti akan di terbitkan di media massa untuk dijadikan Buku. Penerbit sekarang tidak sama dengan 20 tahun lalu. Menulislah setiap hari maka penerbit buku akan mencari anda, bukan anda yang mencari penerbit ? Dengan skill penulis akan diburu penerbit. Menulis setiap hari sampaikan pada pembaca dan ujung ceritanya ada komitmen untuk melanjutkannya.

Pesan diakhir kuliah online, om Deka bilang: “ Boleh jadi seseorang sedang menanti buah pikiran mu untuk dibacanya dengan penuh kekaguman ”. So menulislah, kata om Deka dengan penuh pengharapan dan optimis ! Terima kasih ilmu Om Deka luar biasa sekali....Semangat di Bulan Ramadhan penuh rahmat dan berkah semoga ilmu Om Deka menjadi ilmu yang yang bermanfaat menjadi amal jariyah beliau, aamiin. So...semangatlah jangan lupa saling blog walking untuk mengukur kemampuan menulis kita. Banyak orang tidak pede (=percaya diri) saat mau menuangkan gagasan lewat tulisannya. Percayalah. Kamu bisaaa !

Muh. Taufiq
SMAN 1 Semanu, Gk, D.I. Yogyakarta.







4 komentar: