Minggu, 19 April 2020

Praktik menulis : "Peyek Kacang Manalagi"


PEYEK KACANG MANALAGI


Aku habis sholat maghrib, terus ngebaca Al-Quran, ini tugas rutinitasku. Langsung buka HP lho..ada tugas menantang dari Omjay WAG Belajar Menulis Gelombang 7 yang harus segera dieksekusi, biar segera plong. Tema nya: “Peyek Kacang”. Kalau bicara tentang peyek, aku jadi ingat istilah jawa, ”Peyek yo peyek ning ojo diremet-remet”, ngenyek yo ngenyek ning ojo banget-banget. Maksudnya boleh ngejek tapi jangan kebangetan. Ha ha ha.

Kalau di Gunungkidul, bisa dibilang pusatnya peyek, baik peyek kacang, peyek kedelai, peyek bayam, peyek teri dan lain-lain. Biasanya omzet yang paling besar saat acara Hari Raya, rasulan, bersih dusun, atau majemukan. Yaitu mengucapkan terima kasih atau wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas panen yang mereka terima. Dengan tujuan agar di tahun yang akan datang, panenanya lebih baik dan lebih banyak.. Acara Rasulan atau bersih dusun yang menjadi icon yaitu “peyek” dan “sayur lombok ijo”. Wow..mantab pokoknya, jadi ngiler aku mendengar peyek kacang.

Peyek dibuat dari tepung beras, dikasih irisan kacang atau bisa kacang utuh, diberi bumbu bawang putih, garam, air mineral, dan santan. Cara membuatnya sangat mudah, tepung beras dikasih bumbu, air dan santan, diaduk sampai merata tidak terlalu kental. Masukkan kacang ke dalam adonan tepung dan bumbu, lalu diadu-aduk sampai merata. Siapkan wajan, yang sudah ada minyak gorengnya, api dalam keadaan sedang sampai  keemasan, masukkan adonan tersebut dalam minyak goreng. Kalau mau empuk, ya digoreng dua kali. Peyek sudah matang dan siap saji. Peyek kacang merupakan camilan, sehingga pantas saja, untuk acara formal maupun non formal, kapan saja dan dimana saja. Kalau belum habis, makan terus, kalau sudah habis dicari lagi, maka disebut ”Peyek Kacang Manalagi !”.  Selamat menikmati.(mtq).

Muh. Taufiq
SMAN 1 Semanu, Gk, DIY

Tidak ada komentar:

Posting Komentar