PEYEK
KACANG MANALAGI
Aku
habis sholat maghrib, terus ngebaca Al-Quran, ini tugas rutinitasku. Langsung
buka HP lho..ada tugas menantang dari Omjay WAG Belajar Menulis Gelombang 7 yang harus segera dieksekusi, biar segera
plong. Tema nya: “Peyek Kacang”. Kalau bicara tentang peyek, aku jadi ingat
istilah jawa, ”Peyek yo peyek ning ojo
diremet-remet”, ngenyek yo ngenyek
ning ojo banget-banget. Maksudnya boleh ngejek tapi jangan kebangetan. Ha
ha ha.
Kalau
di Gunungkidul, bisa dibilang pusatnya peyek, baik peyek kacang, peyek kedelai,
peyek bayam, peyek teri dan lain-lain. Biasanya omzet yang paling besar saat acara
Hari Raya, rasulan, bersih dusun, atau majemukan. Yaitu mengucapkan terima
kasih atau wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas panen yang mereka terima.
Dengan tujuan agar di tahun yang akan datang, panenanya lebih baik dan lebih
banyak.. Acara Rasulan atau bersih dusun yang menjadi icon yaitu “peyek” dan “sayur
lombok ijo”. Wow..mantab pokoknya, jadi ngiler aku mendengar peyek kacang.
Peyek dibuat
dari tepung beras, dikasih irisan kacang atau bisa kacang utuh, diberi bumbu
bawang putih, garam, air mineral, dan santan. Cara membuatnya sangat mudah,
tepung beras dikasih bumbu, air dan santan, diaduk sampai merata tidak terlalu
kental. Masukkan kacang ke dalam adonan tepung dan bumbu, lalu diadu-aduk
sampai merata. Siapkan wajan, yang sudah ada minyak gorengnya, api dalam
keadaan sedang sampai keemasan, masukkan
adonan tersebut dalam minyak goreng. Kalau mau empuk, ya digoreng dua kali.
Peyek sudah matang dan siap saji. Peyek kacang merupakan camilan, sehingga
pantas saja, untuk acara formal maupun non formal, kapan saja dan dimana saja. Kalau
belum habis, makan terus, kalau sudah habis dicari lagi, maka disebut ”Peyek
Kacang Manalagi !”. Selamat menikmati.(mtq).
Muh.
Taufiq
SMAN 1
Semanu, Gk, DIY

Tidak ada komentar:
Posting Komentar